Selasa, 20 September 2016

Teman saat Butuh


Siapkan dulu hati mu, agar kalimat ini tak membuat mu marah apalagi bersedih.

Setiap orang dianugrahkan penglihatan dan rasa. Apa yang kita lihat mungkin adalah hal yang sama, namun hingga bagaimana hal itu terucap akan berbeda rasa, baik dari ku atau pun kamu. Pun juga tentang apa yang akan ku tulis dini hari ini.

Aku sering membaca judul yang sama dengan apa yang akan ku ceritakan. Bedanya, aku punya rasa yang lain dengan judul ini. Bukan – aku bukan sedang galau atau merasa tersakiti. Justru aku sedang berharap. Berharap menjadi orang yang akan kamu hubungi pertama kali saat sedang membutuhkan sesuatu. Menjadi sosok yang akan kamu ingat di saat-saat genting mu.

Bukankah teman akan saling membutuhkan dan menawarkan kebutuhan? Menjadi sosok yang memberi tanpa perlu diminta berkali-kali. Tak harus berseru begitu kerasnya hingga kebutuhan terpenuhi dengan bantuan. Teman akan berupaya, meski memang keterbatasan adalah keniscayaan. Mengapa aku marah bila disebut “Teman saat Butuh”? Bukankah..bukan yang demikian yang aku maksudkan? Aku membutuhkan mu, pun juga aku ingin kamu butuhkan.

Menjadi “saling” bukan hal yang mudah. Diantara aku dan kamu harus ada ikhlas dan kasih. Barulah proses butuh itu bisa kita upayakan hingga menjadi “saling”. Ah, bukankah kalimat “Teman saat Butuh” ini sebenarnya romantis? Jadi mengapa kamu murka dengannya? Mengapa harus berlarut-larut dalam sedih dan kepedihan yang berkepanjangan. Bila barakah ada di diri kita, segalanya bisa saja menjadi manis. Semanis apa yang telah kita ciptakan sebagaimana keadaan idealnya.





 “Kepahitan hidup itu niscaya. Tapi kepahitan itu menguji, maka ia akan baik bagi yang mempersiapkan diri.”




Termasuk mempersiapkan diri menghadapi kebiasaan dan arus lingkungan. Belajarlah untuk tidak mempermasalahkan. Menjadi kuat di atas puing kepasrahan hamba kepada Tuhannya. Apa-apa akan menjadi hal yang heroik dalam kisah perjuangan dunia. Aku saja butuh kamu untuk memegangi ku agar tak hilang dari jalan yang Allah ridhoi. Dan aku yakin kamu juga perlu seseorang, tak hanya satu..dua..tiga.. Namun amat sangat banyak orang yang bisa berada di sisi mu.

Mari berteman. Ada di setiap kegundahan untuk saling menceriakan. Berjalan bersama mengatasi permasalahan yang terasa menjadi milik bersama walau sebenarnya hanya punya ku atau punya mu saja. Terimakasih mau menjadi teman yang kubutuhkan dan menjadikan ku teman yang kamu butuhkan.


- Siti Mulya Nurjanah -

Minggu, 28 Agustus 2016

Minggu Senin



Minggu – Dia yang punya pesona dan menjadi hal paling ditunggu. Penuh kenangan menyenangkan dan keromantisan. Siapa gerangan yang sekiranya akan menolak Minggu. Molek indah mentari yang datang dan pergi belum terjamah olehnya. Subuh dan senja menjadi bayang semu dari sudut Minggu. Memori Minggu: pagi yang ceria menyambut hangatnya siang, malam yang manja dengan keromantisan dingin berpadu temaram.
Senin – Dia yang menjenuhkan semangat dan menjadi hal paling dihindari. Penuh dengan tuntutan, kepayahan, dan kerja yang membebani. Bila dia benar-benar hadir, perlu enam hari lamanya untuk menunggu Minggu. Langitnya tak pernah bisa diprediksi. Terlampau sering menampakkan mega mendung hingga makin banyak orang tak menyukainya. Tiba-tiba hujan bisa turun dengan ringannya. Tak pernah tau jatuh untuk apa dan siapa.


23.59.59 hingga 00.00.01
Begitulah pertemuan mereka – Minggu Senin
Tak lama, tak jua menetap. Perlu menunggu berhari-hari, berjam-jam, dengan hitungan menit dan detik yang menyesakkan dada. Minggu Senin – andai bisa lebih lama untuk saling menyapa. Saling memperhatikan, saling menoleh untuk menetap, tapi tak benar-benar untuk saling menjadi kesatuan.








Ku tulis dari sebuah kesaksian, akan Minggu Senin
Siti Mulya Nurjanah

Jumat, 14 November 2014

Awal

Bismillahirrohmanirrohim
Di akhir usia 19, aku meyakinkan diri untuk mengubah cara pandangku.
Mengubah apa-apa yang seharusnya memang diubah.
Memperbaiki apa-apa yang perlu untuk diperbaiki.

Jumat, 14 November 2014
pk 14.11

14.11 - 14/11/14