Siapkan dulu hati mu, agar kalimat
ini tak membuat mu marah apalagi bersedih.
Setiap orang dianugrahkan
penglihatan dan rasa. Apa yang kita lihat mungkin adalah hal yang sama, namun
hingga bagaimana hal itu terucap akan berbeda rasa, baik dari ku atau pun kamu.
Pun juga tentang apa yang akan ku tulis dini hari ini.
Aku sering membaca judul yang sama
dengan apa yang akan ku ceritakan. Bedanya, aku punya rasa yang lain dengan
judul ini. Bukan – aku bukan sedang galau atau merasa tersakiti. Justru aku
sedang berharap. Berharap menjadi orang yang akan kamu hubungi pertama kali
saat sedang membutuhkan sesuatu. Menjadi sosok yang akan kamu ingat di
saat-saat genting mu.
Bukankah teman akan saling
membutuhkan dan menawarkan kebutuhan? Menjadi sosok yang memberi tanpa perlu
diminta berkali-kali. Tak harus berseru begitu kerasnya hingga kebutuhan
terpenuhi dengan bantuan. Teman akan berupaya, meski memang keterbatasan adalah
keniscayaan. Mengapa aku marah bila disebut “Teman saat Butuh”? Bukankah..bukan
yang demikian yang aku maksudkan? Aku membutuhkan mu, pun juga aku ingin kamu
butuhkan.
Menjadi “saling” bukan hal yang
mudah. Diantara aku dan kamu harus ada ikhlas dan kasih. Barulah proses butuh
itu bisa kita upayakan hingga menjadi “saling”. Ah, bukankah kalimat “Teman
saat Butuh” ini sebenarnya romantis? Jadi mengapa kamu murka dengannya? Mengapa
harus berlarut-larut dalam sedih dan kepedihan yang berkepanjangan. Bila
barakah ada di diri kita, segalanya bisa saja menjadi manis. Semanis apa yang
telah kita ciptakan sebagaimana keadaan idealnya.
“Kepahitan hidup itu niscaya. Tapi
kepahitan itu menguji, maka ia akan baik bagi yang mempersiapkan diri.”
Termasuk mempersiapkan diri
menghadapi kebiasaan dan arus lingkungan. Belajarlah untuk tidak
mempermasalahkan. Menjadi kuat di atas puing kepasrahan hamba kepada Tuhannya.
Apa-apa akan menjadi hal yang heroik dalam kisah perjuangan dunia. Aku saja
butuh kamu untuk memegangi ku agar tak hilang dari jalan yang Allah ridhoi. Dan
aku yakin kamu juga perlu seseorang, tak hanya satu..dua..tiga.. Namun amat
sangat banyak orang yang bisa berada di sisi mu.
Mari berteman. Ada di setiap
kegundahan untuk saling menceriakan. Berjalan bersama mengatasi permasalahan
yang terasa menjadi milik bersama walau sebenarnya hanya punya ku atau punya mu
saja. Terimakasih mau menjadi teman yang kubutuhkan dan menjadikan ku teman
yang kamu butuhkan.
- Siti Mulya Nurjanah -
