Minggu – Dia
yang punya pesona dan menjadi hal paling ditunggu. Penuh kenangan menyenangkan
dan keromantisan. Siapa gerangan yang sekiranya akan menolak Minggu. Molek
indah mentari yang datang dan pergi belum terjamah olehnya. Subuh dan senja
menjadi bayang semu dari sudut Minggu. Memori Minggu: pagi yang ceria menyambut
hangatnya siang, malam yang manja dengan keromantisan dingin berpadu temaram.
Senin – Dia yang
menjenuhkan semangat dan menjadi hal paling dihindari. Penuh dengan tuntutan,
kepayahan, dan kerja yang membebani. Bila dia benar-benar hadir, perlu enam
hari lamanya untuk menunggu Minggu. Langitnya tak pernah bisa diprediksi.
Terlampau sering menampakkan mega mendung hingga makin banyak orang tak
menyukainya. Tiba-tiba hujan bisa turun dengan ringannya. Tak pernah tau jatuh
untuk apa dan siapa.
23.59.59 hingga
00.00.01
Begitulah
pertemuan mereka – Minggu Senin
Tak lama, tak
jua menetap. Perlu menunggu berhari-hari, berjam-jam, dengan hitungan menit dan
detik yang menyesakkan dada. Minggu Senin – andai bisa lebih lama untuk saling
menyapa. Saling memperhatikan, saling menoleh untuk menetap, tapi tak
benar-benar untuk saling menjadi kesatuan.
Ku tulis dari
sebuah kesaksian, akan Minggu Senin
Siti Mulya Nurjanah
