Minggu, 28 Agustus 2016

Minggu Senin



Minggu – Dia yang punya pesona dan menjadi hal paling ditunggu. Penuh kenangan menyenangkan dan keromantisan. Siapa gerangan yang sekiranya akan menolak Minggu. Molek indah mentari yang datang dan pergi belum terjamah olehnya. Subuh dan senja menjadi bayang semu dari sudut Minggu. Memori Minggu: pagi yang ceria menyambut hangatnya siang, malam yang manja dengan keromantisan dingin berpadu temaram.
Senin – Dia yang menjenuhkan semangat dan menjadi hal paling dihindari. Penuh dengan tuntutan, kepayahan, dan kerja yang membebani. Bila dia benar-benar hadir, perlu enam hari lamanya untuk menunggu Minggu. Langitnya tak pernah bisa diprediksi. Terlampau sering menampakkan mega mendung hingga makin banyak orang tak menyukainya. Tiba-tiba hujan bisa turun dengan ringannya. Tak pernah tau jatuh untuk apa dan siapa.


23.59.59 hingga 00.00.01
Begitulah pertemuan mereka – Minggu Senin
Tak lama, tak jua menetap. Perlu menunggu berhari-hari, berjam-jam, dengan hitungan menit dan detik yang menyesakkan dada. Minggu Senin – andai bisa lebih lama untuk saling menyapa. Saling memperhatikan, saling menoleh untuk menetap, tapi tak benar-benar untuk saling menjadi kesatuan.








Ku tulis dari sebuah kesaksian, akan Minggu Senin
Siti Mulya Nurjanah